Rabu, 10 Oktober 2012

Sistim Pendidikan Indonesia "Saiki"

Apa yang salah dengan pendidikan Indonesia saaat ini?? (tawuran yang semakin marak mungkin karena ini juga)



Bebarapa hari yang lalu saya membaca sebuah catatan seseorang di Fb yag di tulis oleh Rhenald Kasali, seperti berikut:

Rhenald Kasali, Thursday, 15 July 2010

Lima belas tahun lalu saya saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak sya belajar di amerika serikat. Masalahnya, karangan berbahasa inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah di beri nilai E (Excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di amerika dan baru molai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelum itu pernah ditunjukan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut say a tulissn itu sangat burukl, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah. Rupanya karangan itulah itu yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salh member nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya prostes ibu guru yang menerima saya bertanya singkat, maaf ibu dari mana? "Dari Indonesia" jawab saya, dia pun tersenyum.

# Budaya Menghukum#
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. "saya mengerti" jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut namun tetap simpatik itu. "bebrapa kali saya bertemu ayah, ibu dari Indonesia yang anaknya dididik sini" lanjutbya, "di Negara anda guru sangat sulit member nilai. Filosofi kami disini mendidik bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! "dia pun melanjutkan argumentasinya. " saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda, namun untuk anak sebesar itu baru tiba dari Negara yang bahasa ibunya bukan bahasa inggris, saya dapat menjamin ini adalah karya yang hebat, " ujarnya dengan menunjuk karangan berbahasa inggris yang di tulis anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita. Saya teringat, betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai "A" dari program master hingga doctor. Sementara di Indonesia saya harus menyelesaikan study jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian doctor saya pun dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar0benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu dan memberikan jalan begitu mereka tahu jawabanya. Mereka menunjukan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti, ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan dengan penuh keterbukaan. Pada saat kemabali ketanah air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan para pengajar bukan saling menolong malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk dibangku ujian. Etika seorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batu. Saya sempat mengalami frustasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusia mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di amerika memajukan anak-anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak disana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima hadiah nobel. Bukan karena mereka memiliki guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat, karakter yang membangun bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya "janganlah kita mengukur kemampuan anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan" ujarnya dengan penuh kesungguhan, saya juga teringat dengan rapor anak-anak di amerika yang di tulis dalam bentuk verbal. Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras seperti berikut " sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh namun sarah telah menunjukan kemajuan yang berarti". Malam itu saya medatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya ditengah-tengah rasa salah telah member penilaian yang tidak obyektif. Dia pernah pernah protes saat menerima nilai E yang berarti ekxcellent (sempurna) tetapi saya mengatakan "gurunya salah" kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
# Melahirkan Kehebatan#
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat denagn cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincicn batu akik, kapur dan pengapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata ancaman: Awas..; Kalau…; Nanti…; dan tentu saja tulisan merah menyala diatas kertas ujian dan rapor disekolah. Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin membuat kita menjadi lebih disiplin, namun dilain pihak ia juga bisa mematika inisiatif dan mengendurkan semangatnya.
Temuan-temuan baru menyebutkan, ternyata dalam otak menunjukan otak manusia tidak statis, melaikan dapat mengerut (mengecil) atau sebaliknya dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang di dapat dari orang-orang disekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, dan sebaliknya dapat menurun seperti yang sering saya katakana, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi ada juga orang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan cara menghina atau member ancaman yang menakut-nakuti.

Rhenald Kasali
Ketua Program MM UI