Senin, 02 Juli 2012

Learning Cycle

LERANING CYCLE SEBAGAI ALTERNATIF MODEL PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF DAN MENYENANGKAN DALAM MENINGKATKAN
AKTIVITAS BELAJAR SISWA SMA NEGERI 1 PUNGGUR TAHUN PELAJARAN 2011/2012

Andi Widodo
Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Metro
E-mail: bdl_andy@yahoo.com

Abstrac
The research have a background on the lack of students’ involvement in the instructional process especially in biology class, so that the activity of students in instructional process is still low relatively. The objective of this study is to know the effectiveness of LC application of learning models in order to improve students’ activities in learning process. LC is one of the learning model and it is based on constructive ideology. LC Learning Model composed of engagement, Exploration, explanation, elaboration, and evaluation phase. The type of the research is class action research and the subject of this research is the student of XI IPA2 of SMA Negeri 1 Punggur Academic year 2011/2012. It consist of 31 students. This research is conducted in two cycles and each cycle consist of two meetings and one-time evaluation. From this research, it shows that students’ activity in Biology class can improve significantly from the first cycle to the next cycles. It can be seen in every step. It is proved by the result in cycle I of average score of 28.48% and 41.12% for the second cycle. From the explanation above, it can be concluded that LC is an effective and fun learning model to increase students’ activity in the class. Because of it, the LC learning model can be applied in biological class especially in material of coordination system. The researcher expects that the students’ achievement in learning can be raised maximally.


Keyword: learning cycle, students’ activities


PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar dapat berperan aktif dan positif dalam hidupnya sekarang dan yang akan datang. "Pendidikan merupakan faktor penting dalam kehidupan manusia. Kemampuan bersaing, penguasaan IPTEK merupakan unsur penting untuk kemajuan suatu bangsa". Umar Tirtarahardja dan Lasula (2000). Salah satunya untuk memahami dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi adalah dengan belajar ilmu biologi.
Biologi adalah bagian dari ilmu sains (ilmu pengetahuan) yang mengkaji mengenai kehidupan dan menjadi subjek mata pelajaran di sekolah dan di seluruh dunia. Dengan belajar biologi manusia dapat mempelajari dirinya sendiri sebagai makhluk hidup dan dengan lingkungannya. Dengan belajar biologi, juga akan membangkitkan pengertian dan rasa sayang pada makhluk hidup, rasa peduli pada lingkungan hidup, serta mengembangkan cara berpikir ilmiah melalui percobaan. Namun untuk menghasilkan pikiran yang dapat diterima oleh akal manusia diperlukan pengetahuan dan pemahaman terhadap proses-proses yang bersangkutan dan penalaran secara runtut agar dapat dirumuskan dan diolah secara terstruktur sehingga menghasilkan pemahaman yang nyata. Pada kenyataannya siswa banyak yang tidak paham dengan beberapa konsep-konsep materi biologi, banyak yang beranggapan bahwa beberapa materi biologi tidak menyenangkan dipelajari karena cenderung menghafal tulisan-tulisan dan nama-nama ilmiah, akhirnya siswa menjadi jenuh dan bosan sehingga aktivitas belajarnya pun rendah dan banyak diantara siswa SMA yang belum menguasai konsep-konsep tentang biologi yang menyebabkan pemahaman mereka terhadap gejala alam dan lingkungan sekitar sulit untuk dipahami. Dalam kondisi ini kesulitan datang kepada siswa dalam memahami konsep biologi.
Dalam proses pembelajaran tentu diperlukan adanya aktivitas belajar. Aktivitas belajar dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan bertujuan untuk mencapai prestasi belajar yang semaksimal mungkin. Hamalik (1995:31) menyatakan berhasil atau tidaknya saudara belajar sangat tergantung pada aktivitas dan ketekunan anda sendiri. Jadi dengan demikian dapat dikatakan bahwa aktivitas tersebut sangat berpengaruh dalam mencapai tujuan belajar atau hasil prestasi belajar seseorang.
Dari pendapat mengenai aktivitas belajar di atas dapat diketahui bahwa aktivitas belajar merupakan sesuatu kegiatan atau perbuatan yang meliputi aktivitas fisik maupun psikis dari siswa. Aktivitas dan potensi belajar setiap siswa berbeda satu dengan lainnya. Sesuai dengan pendapat Hamalik berikut. Hamalik (2001: 170-171) menyatakan siswa adalah organisme yang hidup, di dalam dirinya beranekaragam dan potensi yang hidup yang sedang berkembang. Di dalam dirinya terdapat prinsip aktif, keinginan untuk berbuat dan bekerja sendiri. Prinsip aktif inilah yang mengendalikan tingkah laku siswa.
Dari pendapat Hamalik di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa sudah ada dalam setiap individu peserta didik, dan aktivitas ini merupakan kodrat yang dimiliki oleh setiap peserta didik, oleh karena itu aktivitas harus ada dalam suatu proses pembelajaran untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimilki oleh setiap peserta didik. Potensi tersebut meliputi tiga aspek, yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Dari beberapa faktor di atas dapat diketahui adanya kesulitan belajar yang dialami oleh siswa SMA sehingga aktivitas belajarnya pun masih belum optimal. Untuk itu peneliti mencoba menerapakan model pembelajaran LC. Cohen dan
Clough (dalam Soebagio, 2000) menyatakan "LC merupakan strategi jitu bagi pembelajaran sain di sekolah menengah karena dapat dilakukan secara luwes dan memenuhi kebutuhan nyata guru dan siswa". Pada penelitian ini, difokuskan pada upaya meningkatkan aktivitas belakajar siswa dengan menggunakan model learning cycle. Dengan demikian rumusan masalah dalam penelitian adalah Apakah model pembelajaran LC dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada pokok bahasan sistem koordinasi? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran LC.

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPA2 SMA Negeri 1 Punggur Tahun Pelajaran 2011/2012 yang terdiri dari 31 siswa pada pokok bahasan system koordinasi. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus tindakan dengan setiap siklusnya dilaksanakan dua kali pertemuan dan satu kali untuk evaluasi. Tahapan pembelajaran yang dilaksanakan (Fajaroh, Fauziatul dan Dasna 2007) dimulai dari:
1. Identifikasi tujuan pembelajaran yaitu menyosialisasikan tujuan yang harus dicapai dalam proses pembelajaran.
2. Engagement, yaitu mempersiapkan peserta didik agar terkondisi dalam menempuh fase berikutnya dengan jalan mengeksplorasi pengetahuan awal (knowlagde) dan ide-ide mereka serta untuk mengetahui kemungkinan terjadinya miskonsepsi pada pembelajaran sebelumnya. Dalam fase engagement ini minat dan keingintahuan (curiosity) pebelajar tentang topik yang akan diajarkan berusaha dibangkitkan. Pada fase ini pula pebelajar diajak membuat prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan dipelajari dan dibuktikan dalam tahap eksplorasi.
3. Exploration, yaitu peserta didik diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil tanpa pengajaran langsung dari guru untuk menguji prediksi, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum dan telaah literatur.
4. Explaination, yaitu peserta didik mempresentasikan hasil eksplorasinya kepada kelas dengan cara mereka. Guru harus mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri, meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan mereka, dan mengarahkan kegiatan diskusi. Pada tahap ini pebelajar menemukan istilah-istilah dari konsep yang dipelajari
5. Elaboration, yaitu siswa terlibat dalam diskusi dan akan timbul hal-hal yang baru terkait materi yang dipresentasikan. Pemahaman yang telah didapatkan dikembangkan dalam diskusi tersebut. Pada fase inilah guru berperan untuk memperbaiki miskonsepsi yang dialami anak didiknya.
6. Evaluation, yaitu dilakukan evaluasi terhadap efektifitas fase-fase sebelumnya dan juga evaluasi terhadap pengetahuan, pemahaman konsep, atau kompetensi pebelajar melalui problem solving dalam konteks baru yang kadang-kadang mendorong pebelajar melakukan investigasi lebih lanjut. Untuk mengetahui pemahaman siswa, dilakukan tes kecil.

HASIL PENILITIAN DAN PEMBAHASAN
Pembelajaran Biologi dengan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle di SMA Negeri 1 Punggur Kabupaten Lampung Tengah telah dilakukan sesuai dengan tahapan pelaksanaannya yaitu Identifikasi Tujuan Pembelajaran, Engagment, Exploration, Explanation, Elaboration, dan Evaluation. Berikut ini adalah tabel hasil aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan model LC pada siklus I dan siklus II
Tabel 1. Data Aktivitas Siswa Pada Pra PTK, Akhir Siklus I dan Akhir
Siklus II

No
Aktivitas yang diamati Pra PTK Akhir siklus I Akhir siklus II Peningkatan
Target
1 Mengeluarkan pendapat 6,5% 8,06% 14,51% 6,45% 20%
2 Bertanya pada guru 9,5% 9,68% 20,96% 11,28% 20%
3 Menjelaskan kepada teman 3,2% 16,13% 57,62% 41,49% 20%
4 Aktif berdiskusi - 59,67% 79,03% 19,36% 70%
5 Mengerjakan tugas/ latihan 70,6% 74,19% 82,26% 8,07% 80%
6 Menyimpulkan 6,5% 6,44% 16,12% 9,68% 15%
Jumlah persentase 174,17 270,5 96,3
Rata-rata persentase 16,05% 29,02% 45,08% 16,05%

Dari tabel di atas data aktivitas belajar siswa pada akhir siklus I dan siklus II pada proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran LC dapat dijelaskan bahwa:
a. Aktivitas berdiskusi
Pada siklus I ini aktivitas berdiskusi sebesar 59,67% belum mencapai target dan masih tergolong rendah. Dari hasil pengamatan masih banyak siswa yang merasa malas untuk mengerjakan soal diskusi dan terkadang ada yang mengobrol di luar bahan diskusi sehingga hanya dari beberapa anggota kelompoknya yang mengerjakan soal diskusi. Peningkatan aktivitas berdiskusi terjadi pada siklus II yaitu sebesar 79,03% dengan kriteria tinggi. Peningkatan ini terjadi karena siswa sudah mulai terbiasa dengan kegiatan diskusi. Selain itu karena guru selalu memberikan motivasi tentang pentingnya sebuah diskusi dalam memecahkan suatu masalah. Suparman (2010:149) menyatakan bahwa: Metode atau cara belajar diskusi merupakan metode yang sudah umum dikenal, akan tetapi proses penarapannya masih sanngat minim. Metode ini akan mengacu pada proses berfikir anak didik atau berbagi informasi dan pengalaman sesama anak didik, meningkatkan kemampuan berkomunikasi atau mengutarakan pendapat anak didik, membina kerjasama antar anak didik, melatih kepemimpinan dan meningkatkan keterampilan dalam membuat perencanaan dalam pengambilan keputusan.
Dari pendapat Suparman di atas dapat diketahuai bahwa diskusi merupakan suatu cara belajar yang menuntut siswa untuk berfikir, bertukar pendapat, dan berbagi pengetahuan dan pengalaman. Dari hasil penlitian enam indikator aktivitas terlihat mengalami peningkatan tiap siklusnya.
b. Aktivitas menjelaskan pada teman
Aktivitas menjelaskan pada teman pada siklus I sebesar 14,51%. Kadang siswa yang ditanya tidak mau menjelaskan, biasanya menyuruh teman yang bertanya untuk membaca buku. Tetapi pada sikklus II aktivitas ini mengalami peningkatan menjadi 32,26%. Hal ini karena siswa sudah lebih memahami sifat dari anggota kelompoknya.
Dengan berdiskusi bersama teman akan menambah pemahaman siswa itu sendiri. Peran teman satu kelompok sangat penting dalam hal menyelesaikan permasalahan. Dengan demikian siswa yang kurang mampu tidak akan merasa minder terhadap rekan–rekannya karena mereka telah memberi sumbangan malahan mereka merasa terpacu untuk meningkatkan usaha mereka dengan menaikan nilai mereka. Sebaliknya siswa yang lebih pandai juga tidak akan merasa dirugikan karena rekannya kurang mampu juga telah memberikan bagian sumbangan mereka. Sehingga Siswa yang belum menguasai materi dapat bertanya kepada teman yang sudah menguasai materi.
c. Aktivitas bertanya
Pada tahap explanasi terjadi aktivitas bertanya. Aktivitas bertanya pada siklus 1 rata-rata sebesar 8,06% dan masih tergolong rendah. Pada siklus II aktivitas bertanya mengalami peningkatan menjadi 20,96%. Selain guru mewajibkan setiap kelompok untuk bertanya pada siklus II ini materinya cukup menarik, sehingga siswa termotivasi untuk bertanya. Dari hasil pengamatan aktivitas bertanya pada siklus I sebesar 8,06% dan mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 20,96%. Peningkatan ini terjadi karena siswa termotivasi dengan penghargaan yang diberikan oleh guru yaitu berupa nilai plus. Menurut Trianto (2009: 115) Dalam sebuah pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya berguna untuk:
1. Menggali informasi baik administrasi maupun akademis
2. Mengecek pemahaman siswa
3. Membangkitkan respon kepada siswa
4. Mengetahui sejauh mana keinginan siswa
5. Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa
6. Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru.
7. Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa
8. Mnyegarkan kembali pengetahuan siswa
d. Aktivitas mengungkapkan pendapat
Aktivitas mengungkapkan pendapat pada siklus I sebesar 8,06% dengan kriteria rendah. Berdasarkan hasil pengamatan masih banyak siswa yang belum berani mengungkapkan pendaptnya dengan alasan malu dan takut kalau pendapatnya ditertawakan temannya. Pada siklus II aktivitas mengeluarkan pendapat mengalami peningkatan menjadi 16,13%. Budiani (2011) motivasi yang diberikan oleh siswa dapat meningkatkan aktivitas mengungkapkan pendapat. Peningkatan aktivitas ini belum maksimal sesuai dengan target peneliti dikarenakan belum terbiasanya siswa mengungkapkan pendapatnya. Kebanyakan siswa merasa takut kalau pendaptnya kurang tepat dan menjadi bahan tertawaan temannya.
e. Mengerjakan tugas/ latihan
Aktivitas mengerjakan tugas atau latihan yang diberikan oleh guru pada siklus I sebesar 79,19% dan mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 82,26%. Peningkatan ini terjadi karena siswa sudah mulai merasakan pentingnya mengerjakan tugas agar lebih paham dengan materi yang sedang dipelajari. Suastika (2011) menyatakan “Aktivitas siswa dalam model LC ”5E” yang lebih dominan adalah membaca dan mengerjakan LKS yang termasuk dalam tahap eksplorasi”. Dari pendapat suastika di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas mengerjakan latihan ini dapat menambah pengetahuan siswa karena pada tahap eksplorasi siswa dituntut untuk mengerjakan tugas atau latihan yang diberikan oleh guru dengan jalan telaah literatur.
f. Menyimpulkan
Berdasarkan hasil observasi aktivitas menyimpulkan pada siklus I sebesar 6,44% dan meningkat menjadi 16,12%. Hal ini karena siswa pada saat kegiatan diskusi sudah terlibat secara aktif sehingga siswa lebih paham terhadap materi yang disampaikan. Selain itu untuk aktivitas mengerjakan tugas pada siklus I sebesar 74,19% dan meningkat menjadi 82,26%. Peningkatan terjadi karena siswa sudah merasakan pentingnya mengerjakan tugas agar lebih paham terhadap materi yang sedang dipelajari.
Peningkatan aktivitas siswa dilihat dari 6 indikator aktivitas yang telah ditetapkan oleh peneliti yang terdapat pada lembar observasi aktivitas siswa. Rata-rata aktivitas yang diperoleh siswa dari lembar observasi pada siklus I sebesar 29,02% dan mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 45,08%. Dari uraian deskriptif di atas dapat diketahuai bahwa model pembelajaran LC dapat diterapkan untuk meningkatkan aktivitas dan belajar siswa.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan secara deskriptif, maka dapat disimpulkan hasil penelitian sebagai berikut:
1. Model pembelajaran LC dapat meningkatkan aktivitas siswa. hal ini dapat dilihat pada siklus I jumlah rata-rata aktivitas yang diperoleh dari 6 indikator aktivitas belajar siswa sebesar 28,48% dan mengalami peningkatan menjadi 41,12% pada siklus II. Peningkatan yang terjadi sebesar 12,64%.
2. Model pembelajaran LC dapat meningkatkan hasil siswa. Peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran LC sebesar 19,35% dari 64,52% pada siklus I dan meningkat menjadi 83,87% pada siklus II.

Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, peneliti mempunyai beberapa saran sebagai berikut
1. Sebelum menerapkan model pembelajaran Learning Cycle sebaiknya dibuat terlebih dahulu perencanaan pembelajaran yang baik (perangkat pembelajaran) dan pengelolaan kelas dan waktu yang tepat.
2. Pada saat diskusi sebaiknya guru membimbing siswa agar waktu diskusi berjalan optimal dan tidak banyak siswa yang berbicara di luar materi diskusi sehingga aktivitas siswa yang diharapkan dapat dikontrol dengan baik
3. Selain itu pada waktu kegiatan mempresentasikan hasil diskusi guru sebaiknya membimbing dan mengkondisikan jalanya presentasi agar materi diskusi yang dipresentasikan dapat dipahami oleh siswa yang lainnya.
4. Bagi guru seharusnya bisa mendampingi proses pembelajaran yang dilakukan oleh peniliti agar guru mengetahui kondisi dan masalah-masalah yang dialami siswa ketika belajar dengan cara dikusi atau pun dengan model pembelajaran yang lain.




DAFTAR PUSTAKA

Fajaroh, F., Dasna, I.W. 2003. Penggunaan Model Pembelajaran Learning Cycle
Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Dan Hasil Belajar Kimia Zat Aditif Dalam Bahan Makanan Pada Siswa Kelas XI IPA SMU Negeri 1 Tumpang – Malang. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol 11 (2) Oktober 2004, hal 112-122

Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara

Hamalik, Oemar. 1995. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Soebagio dkk. 2000. Penggunaan Siklus belajar dan Peta Konsep untuk
Peningkatan Kualitas Pembelajaran Konsep Larutan Asam-Basa. PPGSM.

Umar Tirtarahardja dan Lasula. 2000. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka
Cipta.
Suastika, Komang Gde. 2011. Implementasi Model Pembelajaran Siklus (Learning Cycle) Pada Pembelajaran Fisika Materi Dinamika Partikel Di Kelas X Semester 1 SMA Negeri 1 Palangka Raya Tahun Ajaran 2010/2011. Yogyakarta: UNY
Suparman. 2010. Gaya Belajar yang Menyenangkan Siswa. Yogyakatra: Pinus book Publisher.
Trianto, 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta:
Kencana