Senin, 04 Juni 2012

Model Pembelajaran LC



Learning Cycle atau Siklus Belajar merupakan suatu model pembelajaran yang melalui prosedur ataupun tahapan-tahapan dalam suatu proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran menggunakan LC siswa akan melalui tahapan ekplorasi, eksplanasi, elaborasi, dan evaluasi.
Menurut Purniati, dkk (2009) Siklus belajar (Learning Cycle, LC) adalah salah satu model pembelajaran yang memperhatikan kemampuan awal si pembelajar. Pada awal pembelajaran ini, dosen memberi pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menggali pengetahuan awal pembelajar, menyajikan suatu fenomena, atau mengkaji suatu fakta yang berkaitan dengan topik yang akan dibahas. Hal ini disebut fase eksplorasi. Fase ini menyediakan kesempatan bagi para mahasiswa untuk menyuarakan gagasan-gagasan mereka yang bertentangan dan dapat menimbulkan perdebatan dan suatu analisis mengenai mengapa mereka mempunyai gagasan demikian. Selanjutnya fase pengenalan konsep, pada fase ini dosen memberikan konsep atau pemahaman baru yang ada hubungannya dengan fenomena yang diselidiki, dan didiskusikan dalam konteks apa yang telah diamati selama fase eksplorasi. Bagian akhir dari pembelajaran ini adalah fase aplikasi. Dosen memberikan kesempatan secara luas kepada mahasiswa untuk menguji dan menerapkan pemahaman yang telah diberikan sebelumnya terhadap situasi yang berbeda.

Suyatno ( 2009: 64) menyatakan pembelajaran siklus learning adalah pembelajaran efekti secara bersiklus mulai dari eksplorasi (deskripsi), kemudian eksplanasi (empirik), dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). Eksplorasi berarti menggali pengetahuan prasyarat, eksplanasi berarti mengenalkan konsep baru dan alternatif pemecahan, dan eksplanasi berarti menggunakan konsep dalam konsteks yang berbeda.

Dari beberapa pendapat mengenai model pembelajaran LC di atas dapat dilihat bahwa dalam suatu proses pembelajaran yang menerapkan model LC siswa akan terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini karena pada proses pembelajaran dengan model LC siswa dituntut untuk memberikan pendapat atau jawaban dari hasil diskusi kelompoknya. Selain itu siswa juga harus berani menyampaikan atau memaparkan hasil diskusi kelompoknya dalam kelas.
Menurut Simatupang (2008) implementasi dan siklus belajar dalam pembelajaran menempatkan guru atau dosen sebagai fasilitator yang akan mengembangkan perencanaan atau pengembangan perangkat pembelajaran. Pada prinsipnya model LC ini patut dikedepankan karena sesuai dengan teori Piaget dan teori belajar konstruktivisme. Seperti yang diketahui pada penerapan kurikulum berbasis kompetensi yang disempurnakan pada KTSP menuntut penerapan model pembelajaran berbasis kontruktivisme. Kendati demikian penerapan model LC harus tetap mempertibangkan karakteristik kompetensi yang akan dicapai.

Dari pendapat Simatupang di atas dapat diketahui peranan guru atau tenaga pendidik dalam model LC. Dalam pembelajaran dengan model LC guru atau tenaga pendidik berperan sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Jadi dalam proses pembelajaran ini siswa harus menggali pengetahuannya sendiri dengan cara diskusi pada tahap eksplorasi.

Menurut Heron 1988 (dalam Dahar. 1996 : 164) siklus belajar adalah suatu kerangka konseptual yang terdiri atas tiga fase. Fase-fase tersebut yaitu fase eksplorasi, fase pengenalan konsep, dan fase aplikasi konsep. Selama fase eksplorasi siswa dituntut untuk belajar melalui aksi dan reaksi mereka sendiri dalam suatu situasi baru. Siklus belajar ini merupakan rangkaian dari tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat menguasai apa yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif.

Terdapat tiga macam siklus belajar menurut Lawson 1988 (dalam Dahar. 1996: 164-165) yaitu:
1. Siklus belajar deskriptif, pada model ini siswa menemukan dan mendeskripsikan apa yang telah ia dapatkan.
2. Siklus belajar empiris-induktif, pada model ini siswa juga menemukan sesuatu dengan mengeksplorasi, tetapi telah melangkah lebih jauh, yaitu dengan menciptakan sebab-sebab yang mungkin ada pada pola tersebut.
3. Siklus belajar hipotetis-deduktif, dimulai dengan pertanyaan berupa suatu pertanyaan sebab. Para siswa diminta untuk merumuskan jawaban-jawaban ( hipotetis) yang mungkin terhadap pertanyaan itu.